Ratusan Warga Menolak Mati, Pembangunan Kandang Ayam,di Garogol Desa Benjot

Iklan

Ratusan Warga Menolak Mati, Pembangunan Kandang Ayam,di Garogol Desa Benjot

Jumat, 16 Januari 2026, Januari 16, 2026
Cianjur, Cugenang 16/01/2026.// Ratusan warga Desa Benjot dan Desa Cibulakan, Kecamatan Cugenang, Kabupaten Cianjur, secara tegas menolak rencana pengaktifan kembali peternakan ayam milik PT Salabintana Group,

Penolakan tersebut disampaikan dalam audiensi yang digelar sekitar pukul 13.52 WIB di Jalan Awilarangan, Desa Benjot. Hadir dalam kegiatan itu Kepala Desa Benjot, BPD, RT/RW, perangkat desa, Babinsa, Bhabinkamtibmas, perwakilan perusahaan, tokoh masyarakat, serta ratusan warga dari kedua desa.

Warga menilai keberadaan peternakan ayam yang disebut telah berdiri sejak 1992 berpotensi mengganggu kenyamanan dan kesehatan lingkungan, terutama akibat bau menyengat dan serangan lalat, karena lokasinya berdekatan langsung dengan permukiman.

Kepala Desa Benjot, Sopyan Saori, menegaskan dirinya tidak kecewa atas penolakan warga dan menyatakan sikap netral serta berpihak kepada masyarakat.

"Saya tidak merasa kecewa. Majikan saya itu adalah warga. Saya tidak berpihak ke perusahaan. Yang terdampak langsung itu warga Kampung Dadap Jajar dan Kampung Pangkalan. Kalau warga menolak, saya ikut keputusan warga," tegasnya.

Terkait isu pembentukan “tim 15” yang sempat beredar di masyarakat, Sopyan membantah keras.
"Tidak ada tim 15. Itu murni gagasan saya pribadi. Saya justru menantang klaim perusahaan yang bilang kandang ayam modern tidak bau dan tidak ada lalat. Mana mungkin, namanya hewan pasti ada kotoran dan bau,” ujarnya.

Ia juga mengaku pernah melakukan peninjauan langsung ke salah satu peternakan ayam modern di wilayah Sukabumi.

"Hasil pantauan pertama dan kedua, memang tidak ditemukan bau dan lalat yang signifikan. Tapi saya bukan membela perusahaan. Saya sampaikan apa yang saya lihat di lapangan, percaya atau tidak saya kembalikan ke masyarakat,” jelasnya.

Namun demikian, Sopyan menilai kecil kemungkinan perusahaan berani beroperasi kembali tanpa persetujuan warga.

"Risikonya besar. Saya rasa tidak mungkin mereka berani memaksakan,” tambahnya.

Sementara itu, Nurhuda, selaku Humas PT Salabintana Group, mengatakan pihaknya memahami adanya pro dan kontra di tengah masyarakat.

"Di masyarakat itu wajar ada yang setuju dan ada yang menolak. Kami tidak akan memaksakan diri. Kalau dipaksakan juga kami dilema dengan masyarakat,” ujarnya.

Nurhuda membenarkan bahwa peternakan ayam tersebut sudah ada sejak 1992 dan rencana saat ini adalah membangun kembali fasilitas di lahan yang sudah ada, bukan membuka lahan baru.

Terkait penolakan warga, ia menegaskan keputusan akhir berada di tangan pimpinan perusahaan.

"Untuk langkah ke depan saya tidak bisa menjawab sekarang, itu keputusan pimpinan,” katanya.

Terpisah, Muhammad Nur Tokoh masyarakat Desa Benjot,menyatakan bahwa hasil audiensi merupakan keputusan bulat warga untuk menolak secara penuh dan permanen.

"Kami atas nama warga Desa Benjot dan Desa Cibulakan menolak secara utuh. Lokasi ini sangat dekat dengan pemukiman, dampaknya langsung ke kehidupan masyarakat,” tegasnya.

Ia menyebut wilayah yang terdampak antara lain Kampung Dadap Jajar, Kampung Pangkalan, Garogol Kulon-Kidul, hingga Kampung Rancapicung.

Muhammad Nur juga memperingatkan, jika perusahaan tetap melakukan aktivitas, warga siap melakukan tindakan tegas.

"Kalau masih ada pergerakan setelah kesepakatan lisan ini, warga akan melakukan penolakan total dan tindakan lanjutan,” ujarnya.

Ia menambahkan, dalam waktu dekat warga akan menyusun nota kesepahaman (MoU) serta melayangkan surat penolakan resmi ke dinas terkait dan Komisi I DPRD Kabupaten Cianjur, disertai petisi bertanda tangan warga.

"Sikap warga jelas, ini bukan sementara tapi selamanya. Tidak ada lagi wacana peternakan ayam di sini,” pungkasnya.

D'ule

TerPopuler